Odyssey: Trauma Sang Pemenang
Odysseus membawa kemenangan bagi Sparta lewat ide Trojan Horse-nya. Dia berhasil menipu Bangsa Troya dengan meninggalkan “peace offering” berupa sebuah patung kuda besar di depan gerbang kota mereka. Malam hari setelah patung kuda itu dibawa masuk ke dalam kota, para pejuang Sparta diam-diam keluar dari dalamnya dan membuka gerbang yang akhirnya membawa kemenangan bagi Sparta setelah berperang sepuluh tahun lamanya.
Hebat? Ya!
Brilian? Ya!
Tapi ternyata, kemenangan itu malah membawa trauma bagi Odysseus.
Kok bisa ya?
Goal vs Idealisme

Ketika seseorang pergi berperang, tentu yang menjadi tujuannya adalah kemenangan. Di zaman modern seperti sekarang, bahkan segala cara dihalalkan demi mencapai kemenangan. Segalanya terasa normal ketika dalih yang dipakai adalah “menggapai impian” atau “menuju puncak”.
Berbeda dengan kita yang hidup di zaman modern, Odysseus hidup di zaman kuno ketika Zeus Law masih dipegang teguh oleh para masyarakat Yunani. Dengan menipu bangsa Troya menggunakan tawaran perdamaian, tapi ternyata malah menikam mereka dari belakang, Odysseus telah melanggar hukum itu meskipun dia membawa kemenangan bagi bangsanya.
Ide cemerlangnya telah memberinya kemenangan. Tapi di balik kemenangan itu, rasa bersalah selalu menghantuinya karena dia telah melanggar prinsip hidupnya sendiri tentang keadilan. Karena biasanya saat berburu rusa pun, Odysseus selalu membunyikan busur panahnya lebih dulu supaya buruannya punya kesempatan mempertahankan diri.
Makna Kemenangan

Ketika kemenangan malah membawa rasa pahit di hati, masih bisakah dia disebut kemenangan?
Apa sih esensi kemenangan itu sebenarnya? Piala? Kehormatan?
Kenyataannya, kemenangan Odysseus tidak membawa happy ending bagi Sparta. Setelah perang berakhir, Agememnon mati dibunuh di rumahnya, dan Odysseus tersesat di lautan sepuluh tahun lamanya.
Bukankah seharusnya kemenangan membawa perubahan yang baik bagi si pemenang? Kalau Odysseus memang seorang pemenang, kenapa hidupnya malah jadi hancur berantakan setelah memenangkan perang ini?
Mungkin ternyata kemenangan itu bukan sesederhana siapa yang berhasil mengalahkan siapa. Tapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana seorang pemenang berhasil meraih kemenangannya.
A winner who cheats to win may get the trophy, but his win will lose any meaning. Sebuah kemenangan yang dinodai oleh kelicikan, mungkin terasa indah sesaat tapi tidak akan berbuah manis dalam jangka waktu yang panjang. Makanya sebagai manusia yang berakal, kita tidak boleh hanya terpaku pada kemenangan. Kita juga harus mempertimbangkan cara yang layak untuk memperolehnya.
May all our wins will forever be sweet and fruitful… Not like Odysseus’.
Thanks for reading this! Leave your comment below. Follow juga Instagram @just.hilda untuk selalu dapat update terbaru dari blog Just Hilda. Dan kalau kamu suka artikel ini, jangan lupa share ke teman-teman kamu juga ya!
Spread love,



